Notes about Selected Short Essay

I decided to add a new category in this blog that is "Selected Short Essay". The aim is simple, to publish my essay assignments on the web. It ranges from environmental issues, development issues, until tourism-leisure issues. Perhaps you will find something interesting, or even rubbish :p.

You can have it for personal and non-commercial uses (nevertheless, education/information is for all isn't it?). However, I really don't recommend you to use these essay, or even cite it, for your academic work (essay, paper, etc). The problem of citing these essay as your source is simple, how are you going to refer to it? Of course you also have option to give no citation/reference. Then it means you are a plagiat by so doing. And you know that plagiarism is an unforgiven sin hahahahhaha :). Respect others, respect yourself :).

Comments and discussions, instead, are warmly and eagerly welcome. You can say anything freely and then we can engage in an interesting opinion exchange :).

Thursday, August 27, 2009

Pranala Situs Beasiswa

 
Panduan Singkat
Daftar ini berisi informasi beasiswa Inggris (Chevening), Belanda (NFP, Stuned, Huygen), Australia (ADS), Erasmus Mundus, Amerika (Fullbright), IFP-Ford Foundation, Depdiknas, dan Depkominfo. Tentu masih terdapat banyak informasi beasiswa selain tersebut diatas. Untuk informasi tambahan tersebut, silahkan googling.
-------------------------------

A. Beasiswa terkait negara tempat belajar:

1. Inggris: (Chevening, dan varian-variannya)
www.chevening.or.id atau www.chevening.com

Cakupan: S2
Application Deadline 2010/11
Open - 01/10/2009
Closed - 31/12/2009

Kontak:
Ms. Rowena Rompas (rowena[dot]rompas[at]britishcouncil[dot]or[dot]id)
British Council
Indonesia Stock Exchange Tower II, 16th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12190, Indonesia
Phone number: +62 21 515 5561
Fax number : +62 21 515 5562

2. Belanda: (StuNed, NFP, Huygens)
http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/beasiswa

Cakupan: S2 (NFP juga menyakup jenjang S3)
Deadlines: sekitar Januari-Maret tahun yang bersangkutan (cek situs diatas).

Kontak:
Ms. Siska Aprilanti (siska[dot]aprilianti[at]nesoindonesia[dot]or[dot]id)
Neso Indonesia
Menara Jamsostek 20th floor
Jl. Gatot Subroto no.38
Jakarta 12710, Indonesia
Tel: +62 (21) 5290 2172
Fax: +62 (21) 5290 2173
(di Surabaya juga ada, tapi tolong cari sendiri ya, usaha dikit lah hehehe)

3. Australia: (ADS)
http://www.adsindonesia.or.id/

Cakupan: S2 & S3
Deadline: 4 September 2009

Kontak:
Ms. Dwi Sakti Andriyanti
Wira Usaha Building 2nd floor.
JL. H.R. Rasuna Said kav.C-5 Kuningan,
Jakarta Selatan 12940, Indonesia
Phone number : +62 21 527 7648
Fax number : +62 21 527 7649

4. Eropa & UK: (Erasmus Mundus)
http://indoem.info/
http://ec.europa.eu/education/external-relation-programmes/doc72_en.htm

Cakupan: S2
Deadline: bervariasi tergantung program (cek masing-masing konsorsium)

Kontak: langsung ke konsorsium (atau universitas) masing-masing.

5. Amerika: (Fullbright)
http://www.aminef.or.id/fulbright.php

Deadline: umumnya 31 Mei (cek di situs diatas)

Kontak:
infofulbright_ind[at]aminef[dot]or[dot]id
Gedung Balai Pustaka Lt. 6
Jalan Gunung Sahari Raya No. 4
Jakarta 10720
Phone: (021) 345-2016
Fax: (021) 345-2050

B. Beasiswa tidak terkait negara tempat belajar:

1. The Ford Foundation International Fellowships Program (IFP)
http://www.iief.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=8

Cakupan: S2 & S3
Deadline: 31 Agustus (Formulir pra-registrasi, alias seleksi awal)

2. Depdiknas (khusus dosen PTN, PTS & DPK)
http://beasiswaunggulan.diknas.go.id/

Cakupan: S1-S3
Deadline: sekitar november (cek situs diatas)

Kontak:
Direktur Ketenagaan
Gedung D Lantai 5 Komplek Depdiknas
Jalan Jenderal Soedirman Pintu I - Senayan, Jakarta 10270
Telp./Faks : (021) 57946052/53

3. Depkominfo (umum)
http://www.depkominfo.go.id/

Cakupan: S2 & S3
Deadline: sekitar Februari (cek situs diatas)

Kontak:
Departemen Komunikasi dan Informatika Replublik Indonesia
Jalan Medan Merdeka Barat No.9 Jakarta
Telp. 021 - 3842526

Friday, August 21, 2009

Berburu beasiswa ke Belanda (1/3)

Artikel ini ditulis dalam tiga bagian (supaya tidak ketiduran) mengisahkan seluk-beluk saya dalam berjuang memperoleh beasiswa ke Belanda. Bagi teman-teman pejuang beasiswa, saya ucapkan selamat berjuang. Jangan patah semangat, betapapun sulitnya proses ini, hasilnya benar-benar layak diperjuangkan. Kami, penerima beasiswa, semua pernah berada di posisi teman-teman. Oleh karena itu, jangan bersedih, terus berusaha. Jika berkenan, silahkan tinggalkan komentar, menambah informasi, maupun berbagi suka-duka dengan rekan-rekan yang lain.

----
Ada beberapa sponsor yang memberikan beasiswa ke belanda misalnya Nuffic (Netherlands Fellowship Programme/NFP), Nuffic via NESO (Studeeren in Netherlands/StuNed), European Commission (Erasmus Mundus), Ford Foundation (International Fellowship Programme/IFP), beasiswa DepKomInfo, depdiknas, dll.

Meskipun saya tahu soal Erasmus mundus, tapi tidak pernah daftar disana; jadi saya tidak kompeten untuk berbicara tentang Erasmus mundus. Sayangnya, justru Erasmus mundus itu yang memberikan beasiswa terbesar (allowance untuk living cost paling besar). Maap banget ya teman-teman hehehe.

Berita baiknya, saya akan fokus soal NFP dan StuNed.

Omong-omong, beasiswa ada dua macam, beasiswa penuh (uang sekolah plus uang belanja bulanan) dan beasiswa parsial. Parsial, artinya hanya sebagian yang dibiayai. Misalnya uang sekolah saja, atau selisih antara uang sekolah penduduk lokal dan orang asing (sekitar lima ribu sampai sepuluh ribu euro pertahun di tahun 2007).

Untuk belanda, beberapa beasiswa parsial misalnya Huygens dan delta. Kalau punya saudara di belanda, beasiswa ini mungkin bisa diandalkan. Tapi kalau tidak punya saudara, walah agak susah hidup dari beasiswa ini. Mencari kerja paruh waktu di belanda itu tidak lagi mudah. Terutama di kota-kota kecil.

Ok, sekarang kita ngobrol tentang beasiswa penuh dari NFP dan StuNed.


Netherlands Fellowship Programme (S2 dan S3)

NFP dan StuNed punya kemiripan yang sangat banyak. Keduanya sama-sama mensyaratkan kamu terdaftar dulu di perguruan tinggi belanda (harus dapat admission/acceptance letter dulu). Formulir merekapun juga hampir sama. Waktu pendaftaran beasiswa keduanya sekitar Januari-Maret (catatan: NFP biasanya tutup lebih awal). Besar beasiswa sama (tahun 2005, 870 euro/bulan diluar uang sekolah). Standar minimal bahasa inggris adalah TOEFL 550 (atau 580, agak lupa) atau IELTS 6.0. Mereka menerima Institutional TOEFL (US$ 25) yang diselenggarakan oleh NESO, tetapi tidak menerima TOEFL prediction yang 'cuma' goban-an itu.

Khusus NFP, kalau tidak salah ingat, syarat pengalaman kerja tidak terlalu ketat. Penting diingat, para juri NFP adalah pihak universitas di belanda. Pihak universitas yang memilih siapa layak menerima beasiswa. Terkadang universitas memilih karena faktor prestasi akademik (IPK > 3.0), meskipun terkadang karena faktor besarnya kesempatan seseorang mendapat beasiswa dari tempat lain (semakin jarang beasiswa selain NFP, semakin besar peluang dapat NFP).

NFP, karena tergantung putusan universitas, seringkali lebih mudah didapatkan kalau anda terdaftar di universitas 'kecil'. Kalau universitasnya 'besar' (alias mahasiswa internasionalnya banyak) seperti Universiteit van Rotterdam, Vrije Universiteit (VU), Universiteit van Amsterdam (UvA), Wageningen Universiteit en Onderzooker centrum (WuR), Institute of Social Studies (ISS), Leiden, Utrecht, Groningen, nijmegen, dll; agak susah karena persaingan sangat ketat. Kuota NFP, setahu saya, sekitar 20 orang pertahun.


Studeren in Nederland (S2)

StuNed adalah kompetisi beasiswa khusus buat penduduk Indonesia (terima kasih kepada Gus Dur). Kuota Stuned agak longgar yaitu 200 orang pertahun untuk program masters penuh (mereka membiayai kursus singkat juga lho). Tahun 2005 dulu, persaingan tidak seketat beasiswa Australia (ADS) ataupun inggris (Chevening). Perbandingannya masih sekitar 1:10 di tahun 2005 (yang mendaftar 2000-an yang diterima 200-an).

Tapi jangan dianggap enteng.

StuNed (seperti juga orang-orang belanda) itu sangat strict to the rule. Kalau sudah mensyaratkan 2 tahun kerja, ya memang mesti ada 2 tahun; kurang sebulan aja nggak akan diterima (dasar kumpeni hehehehe).

Juri StuNed ada di NESO Indonesia. Prioritas mereka adalah pegawai negeri (terutama orang-orang Bappenas/Bappeda), pegiat LSM/sosial, dosen (swasta dan negeri), wanita, penduduk di luar pulau jawa, dan guru sekolah. Profesional dari dunia usaha, agak susah mendapatkan beasiswa ini. Oh ya, kecuali anda adalah dosen yang mengajar mata kuliah manajemen bisnis, kelihatannya tidak mungkin mendapatkan beasiswa untuk studi MBA dari stuned.

Lanjut ke posting seri ke-2 ya :).

Berburu beasiswa ke Belanda (2/3)

Lanjut seri ke-2.

Ok, sekarang kurang lebih alur pendaftaran ke NFP/StuNed seperti berikut:

Pertama, download dulu formulir pendaftaran NFP/Stuned.
Baca dan pahami. Catat dokumen apa yang perlu kamu cari/lengkapi. Umumnya kamu memerlukan legalisir ijasah dan transkrip (legalisir kampus diterima kok; TAPI harap konfirmasikan dengan mereka ya, saya gak bertanggungjawab kalo ternyata peraturannya sudah berubah).

Kedua, ambil tes bahasa inggris.
Institutional TOEFL saja, soalnya 'murah' (Cuma US$ 25 dibandingkan TOEFL paper based/PbT, TOELF IbT, maupun IELTS yang US$ 150), sering (dua kali sebulan), dan relatif 'mudah' (cuma ada tiga jenis materi yaitu reading comprehension, listening, dan structure/grammar; tidak ada writing dan speaking). Hasil tes TOEFL maupun IELTS berlaku 2 tahun. Jadi kalau anda berencana untuk mendaftar tahun depan, ikuti tesnya tahun ini; hitung-hitung mencicil kerjaan dan memperbaiki bahasa inggris (bila diperlukan).

Ketiga, cari universitas di belanda.
Syarat utama NFP dan StuNed adalah admission letter dari universitas. Provisonal admission (alias penerimaan bersyarat) dulu juga diterima. Entah sekarang. Admission bisa berlaku 2 tahun. Saranku, daftarlah ke dua atau tiga universitas, terutama kalau waktu pendaftara NFP/Stuned sudah dekat. Jadi ada cadangan kalau universitas pilihan utamamu tidak menerima. Dulu saya terdaftar di ISS, Groningen, dan WuR. Akhirnya saya memilih WuR karena masa studinya paling lama (alias bisa jalan-jalan lebih lama hehehehe). Tidak ada salahnya kamu main ke situs www.studyin.nl untuk mencari universitas yang cucok :).

Keempat, cari surat rekomendasi.
Surat rekomendasi (biasanya dua sampai tiga orang referees) berguna untuk mendaftar beasiswa dan juga mendaftar universitas. Jadi kalau minta surat rekomendasi, jangan cuma satu kopi. Minta paling sedikit lima eksemplar sekaligus. Semuanya harus ditandatangani asli dan kalau bisa dicetak diatas kertas berkop dan dimasukkan dalam amplop berkop. Surat rekomendasi harus dalam bahasa inggris.

Seringkali pemberi rekomendasi minta anda yang membuat rancangan suratnya (ini umum terjadi di indonesia, tapi jangan sampai ketahuan pemberi beasiswa ataupun pihak universitas belanda lho). Kalau kamu yang membuat rancangan surat rekomendasi, kita diskusikan di lain artikel ya (karena agak rumit strateginya).

Surat rekomendasi ada dua jenis (berkaitan beasiswa), yaitu rekomendasi kemampuan akademik (dari pembimbing skripsi) dan kinerja profesional (dari bosmu). Semakin tinggi jabatan (dan keterkenalan di Indonesia) pemberi rekomendasi, biasanya semakin tinggi peluangmu. Jadi, rekomendasi dari Kwik Kian Gie itu pasti jauh lebih manjur dibandingkan dari saya hahahaha.

Kelima, kumpulkan dokumen pendukung.
Dokumen pendukung disini merujuk legalisir ijasah dan transkrip nilai selain surat rekomendasi (dll) diatas. Foto terkini biasanya juga diminta.

Lanjut ke bagian ke-3.

Berburu beasiswa ke Belanda (3/3)

Bagian ke-3, dan bagian terakhir.

Keenam
, daftar sekolah.
Pendaftaran universitas biasanya memakan waktu minimal sebulan. Masa-masa 'sibuk' universitas adalah menjelang liburan musim dingin (sehabis natal sampai dengan tahun baru) dan saat pendaftaran beasiswa (Januari-April). Maka, menurut saya, waktu terbaik untuk mendaftar adalah September-november (alias awal semester kuliah). Pertama karena itu
masa-masa universitas tidak terlalu banyak aktivitas pendaftaran (lebih cepat responnya), dan kedua, surat pendaftaran otomatis untuk tahun berikutnya. Plus kalau 'nasib' anda buruk, alias tidak diterima, masih ada waktu untuk mendaftar di sekolah lainnya.

Soal daftar sekolah ini, saya dulu pernah 'nangis bombai' gara-gara ditolak suatu institut di belanda sehingga tidak bisa mendaftar beasiswa di tahun tersebut. Di tahun berikutnya, institut yang sama ternyata menerima saya dengan tangan terbuka. Cuma kali ini, giliran saya yang bilang "nehi-nehi beibeh" hehehehe.

Ketujuh, daftar beasiswa.
Ya pastilah kamu harus daftar beasiswa. Mau sampai nangis nungging, tetep aja gak bakal dapat beasiswa kalau tidak pernah mendaftar kompetisi beasiswa. Jadi, isi semua formulirnya dengan lengkap. Tidak ada pertanyaan yang tidak penting sehingga boleh tidak kamu isi. Formulir yang tidak lengkap, tidak peduli sebaik apapun isianmu, tetap akan didiskualifikasi. Gunakan bahasa inggris yang lugas dan mudah dicerna serta informatif. Kemas dan pasarkan dirimu dengan baik.

Oh ya, soal bahasa inggris. Aduh, tolong jangan 'pamer' bahasa inggris dalam kalimat majemuk bertingkat sepuluh :D. Bikin kalimat pendek, singkat, dan jelas. Lagipula, kalimat pendek, umumnya lebih mudah. Kalimat panjang itu tata bahasanya merepotkan.

Kedelapan, (kalau percaya) berdoalah dan lupakan kamu sudah mendaftar.
Tidak ada habis-habisnya aku memberikan saran ini, selalulah berdoa sejak dari awal proses mencari beasiswa. Mau berdoa ke siapapun ya terserah anda hehehehe. Setelah berdoa, lupakanlah bahwa kamu sudah pernah mendaftar. Peranmu saat itu sudah usai, keputusan berada di tangan para juri dan si pendengar doa-mu. Yang bisa kamu lakukan adalah mengambil sikap berserah, menyiapkan diri untuk jawaban 'terburuk', dan .... daftar beasiswa yang lainnya hehehehe.

Jangan terlalu berharap. Anggap saja tidak mendaftar. Sehingga saat benar-benar tidak dapat beasiswa, anda tidak depresi ataupun frustasi. Percayalah, sekuat apapun dirimu, kalau kamu benar-benar mengingini sesuatu dan kamu tidak mendapatkannya; itu sakitnya luar biasa. Saya sudah beberapa kali seperti itu, tapi, sialnya tetep aja tidak kebal sakit *hiks*. Bagiku, persiapan mental ini sangat penting terutama kalau kamu akhirnya mendapat panggilan wawancara.

Kesembilan, (kalau kamu lolos seleksi awal) mempersiapkan wawancara.
Kalau kamu sampai pada tahap ini, pertama-tama kuucapkan selamat. Untuk mencapai tahap ini, kamu adalah 20% terbaik dari pengaju beasiswa lainnya. Sainganmu tinggal sedikit lagi, tapi justru sangat berat. Jangan khawatir. Wawancara adalah ajang mencari kecocokan bukan untuk menjatuhkan. Jadi, saranku jadilah dirimu sendiri.

Persiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan umum dan spesifik tentang dirimu. Baca lagi formulir yang telah kamu isi, bersiaplah memberikan alasan terhadap isian formulirmu. Simulasikan wawancara tersebut berulang-ulang sampai kamu hapal di luar kepala dan bosan simulasi. Gunakan bahasa inggris yang jelas dan singkat. Tidak perlu terburu-buru. Kita bisa diskusi tentang persiapan wawancara dalam artikel lainnya karena topik tersebut cukup panjang juga (dan banyak saran-saran).

Kesepuluh, (kalau kamu memenangkan beasiswa) persiapkan studi dan keluarga yang ditinggalkan di Indonesia.
Ini tidak pernah mudah. Ada banyak cara. Tapi untuk saat ini, fokuskan diri ke langkah pertama sampai kedelapan. Diskusi tentang langkah kesepuluh bisa dilakukan setelah kamu memenangkan beasiswa.

Btw, selamat, kamu adalah yang terbaik dari pendaftar beasiswa di angkatan tersebut. Kamu sepantasnya bangga akan pencapaianmu. (Dan) pikulah tanggung jawab tersebut dengan sepenuh hati.

Kurang lebih itulah prosesku mencari beasiswa dulunya. Kalau masih ada yang tidak jelas silahkan tanya. Kalau bisa, saya jawab; kalau tidak, ya udah kita cari dukun sama-sama :D.

Wednesday, March 11, 2009

Golput? Yg bener aja!

-----catatan-----
Ini adalah versi tersunting dari opini yang saya kirimkan ke beberapa milis e.g. PPI-UK, T-Net
--------------------

Sebentar lagi Pemilu lho (i.e. 9 April 2009). Apakah rekans sudah punya calon (baik perorangan maupun partai) yg akan dipilih? Idealnya memang kita mengenali caleg dan partai yg kita contreng/tick. Tapi hal ini agak susah bagi kita, apalagi hingar bingar kampanye hanya terdengar sayup-sayup di LN.

Ini mungkin memperkuat sikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu dan pada akhirnya menguatkan pilihan tidak ikut pemilu (alias golput). Tidak salah memang sikap ini. Hanya saja, menurut saya, sikap/pilihan tersebut kurang bermanfaat. Please note, sampai beberapa waktu yg lalu, saya juga memilih untuk tidak ikut pemilu. Namun, pilihan saya sekarang berubah untuk aktif ikut pemilu betapapun buruknya pilihan yang ada.

Alasan saya:
1. Golput tidak menghargai 'uang rakyat'. Dana pemilu 2009, sebagaimana dianggarkan dalam APBN adalah sekitar 7,4T rupiah. Total daftar pemilih tetap (DPT) nasional adalah 171 juta, 1,5 juta diantaranya adalah DPT dapil LN (ya kita-kita ini). Jadi biaya pemilu per kepala kurang lebih 43 ribu rp. Sayang sekali lho kalo biaya tersebut disiasiakan karena kita tidak menggunakan hak suara kita. Mungkin bagi kita, uang 43 ribu rupiah itu kecil artinya; tapi perlu diingat bahwa sekitar 50% penduduk Indonesia memperoleh pendapatan lebih kecil dari US$ 2/hari. Apalagi 43 ribu yg sekitar US$4. Mohon direnungkan.

2. Golput tidak akan merubah hasil pemilu. Ada pendapat bahwa angka golput yg tinggi akan menjadi basis rendahnya legitimasi parpol/caleg terpilih. Mungkin pendapat tersebut benar. Tetapi, meskipun legitimasinya rendah, aspek legal hasil pemilu itu tetap kuat. Hasil pemilu (terlepas 'bersih'/tidaknya) tidak dapat digugat hanya karena angka golput (sangat) tinggi (CMIIW/BYKS). Mahkamah Konstitusi mungkin akan memerintahkan pemilu ulang HANYA JIKA terjadi pelanggaran pemilu yg parah (seperti di Jatim misalnya atau daerah lain), bukan berdasarkan golput yg tinggi. Lalu apa gunanya golput? Tidak akan ada yg berubah :(.

3. Golput memperkuat perolehan suara parpol/caleg. Kalau rekans belum menyadari, penentuan perolehan kursi itu berdasarkan jumlah suara sah yang ada di masing-masing TPS (UU 10/2008: 202(1)). Bahkan bila 199 suara dari 200 suara dinyatakan rusak (alias golput 'terencana'), satu suara tersebut akan menjadi dasar pembagian kursi di TPS yg terkait. Parpol yang mendapat suara banyak di TPS tersebut tentu akan gembira karena 'harga kursi' menjadi semakin murah dengan semakin banyaknya suara 'tidak sah' (atau golput). 'Harga kursi' yg seharusnya 100 suara mungkin dirabat (discounted) menjadi hanya 50 suara karena adanya 50% suara golput. Lah kalau begini, maksud 'baik' rekan-rekan pendukung golput ternyata malah dinikmati oleh parpol (bayangkan kalau itu parpol yg rekan-rekan tidak sukai).

4. Golput merugikan caleg 'pemula'. Caleg pemula cum idealis biasanya mengandalkan swing voters dan pemilih suara yg 'sadar'. Mereka mengandalkan 'jualan program/visi-misi' daripada monyet eh money politic. Lah kemana mereka mau 'jualan', kalo 'pembeli'nya (i.e. mereka yg menyebut dirinya 'memilih berdasar nurani/akal') ternyata tidak datang ke 'pasar' (alias pemilu)? Ya bankrut mereka kan. Dagangan 'berkualitas' mereka amat mungkin dikalahkan oleh 'obral hadiah' (utk tidak mengatakan pemberian uang, barang, dll) oleh caleg 'bergizi' karena pemilih 'tradisional' umumnya memilih 'hadiah'. Golput anda membuat pangsa pasar caleg 'pemula' menjadi menyusut.

5. Golput menghambat perubahan. Menyambung alasan (3) dan (4) diatas, suara golput tidak dapat dirubah menjadi suatu kekuatan nyata di dewan perwakilan maupun pihak eksekutif (dan akhirnya juga pihak yudikatif; note: hakim tipikor, MA, KY, MK, dll itu dipilih dan disahkan di DPR --CMIIW; kalo DPR-nya banyak diisi orang brengsek, bagaimana kita bisa berharap perubahan disektor hukum???). Tidak ada dalam DPR kita yang namanya fraksi golput. Apakah suara golput dapat menyalurkan aspirasi kita? Apakah perubahan dapat terjadi bila yang ada di dewan adalah wajah-wajah lama (baik perorangan maupun parpol)? Lebih lanjut, pasangan Capres-Cawapres itu hanya bisa diajukan oleh (koalisi) parpol yang memperoleh suara 20% kursi DPR atau 25% suara sah. Golput hanya akan mempermudah partai 'raksasa' untuk dagang sapi dan mempersulit partai 'gurem' untuk mendorong perubahan-perbaikan.

Menimbang lima alasan diatas, saya melihat cita-cita luhur golput (i.e. perubahan dan perbaikan) hanya akan menjadi angin kosong yang tidak pernah berubah menjadi badai perubahan dan perbaikan. Di negara kita tercinta ini, dengan sistem politik saat ini, 'perubahan dan perbaikan' (albeit besar kecilnya) hanya dapat terjadi bila kita menyalurkan suara kita melalui institusi resmi (/legal). Bayangkan dasyatnya institusi legal tersebut dalam melakukan perubahan cum perbaikan jika mendapat dukungan kita (alias legitimasi 'rakyat').

Bukankah sinyal ini yang muncul pada pemilu 2004 dimana -tanpa diduga- partai demokrat (dan SBY-JK) 'mengagetkan' parpol lainnya dengan perolehan suara mereka. Bukankah dengan munculnya partai demokrat (yg dianggap menampung swing voters dari parpol lainnya e.g. PDI-P, dll), ada parpol yg mulai 'insyaf' dan 'berbenah diri' saat ini. Fenomena "demokrat 2004" (dan SBY-JK 2004) ini seharusnya membuat kita sadar bahwa perubahan dan perbaikan masih bisa terjadi asalkan kita menyalurkan suara kita dengan bijak (apapun kriteria 'bijak' rekan-rekan sekalian).

Jika rekan-rekan merasa muak terhadap sistem politik dan perangkatnya (parpol, caleg, dll) saat ini; mari salurkan suara anda pada pilihan yg 'sedikit buruk' diantara pilihan 'sangat buruk' lainnya. Mari kita kirimkan sinyal dukungan terhadap 'perubahan dan perbaikan' sebagaimana yg (mungkin) pernah dilakukan pada 2004.

Saya paham bahwa pilihan yang ada saat ini rasanya sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati (dan membodohi 'kita'?). Sayangnya, perubahan dan perbaikan yang kita cita-citakan itu kecil kemungkinannya untuk datang atas nama 'dukungan golput'.

Perubahan dan perbaikan melalui saluran ekstra parlemen dan tidak konstitusional itu hanya bisa tercapai bila terjadi anomali sebagaimana kita lihat pada 1998. Masalahnya (atau resikonya), anomali sangat susah 'dikendalikan' dan hasilnya seringkali tidak seideal yang dicitacitakan pada awalnya. Apakah cita-cita reformasi yang mendorong terjadinya anomali '98 sudah tercapai hingga saat ini? (note: ini bila kita masih percaya bahwa Pres Soeharto mengundurkan diri karena tuntutan demonstran bukan karena hal yg lain)

Akhir kata, jika rekan-rekan merindukan perubahan dan perbaikan di negara kita tercinta ini; ayo gunakan hak suara anda sebaik-baiknya dalam pemilu :)

* gambar diunduh dari www.kpu.go.id